Kementerian Luar Negeri AS menyetujui penjualan rudal THAAD ke Arab Saudi senilai $ 15 miliar

0
650


Kementerian Luar Negeri AS menyetujui penjualan rudal THAAD ke Arab Saudi senilai $ 15 miliar
Wikipedia

Kementerian Luar Negeri AS pada hari Jumat menyetujui kesepakatan senilai $ 15 miliar antara Washington dan Riyadh untuk pasokan sistem pertahanan rudal THAAD ke Arab Saudi, Kementerian Pertahanan AS mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Kementerian Pertahanan hari ini mengirim deklarasi yang diperlukan ke Kongres, yang memberitahukan tentang penjualan (THAAD).”

Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa sebelumnya Arab Saudi meminta AS untuk memasok 44 unit THAAD bersama dengan 360 rudal pencegat dan tujuh radar. Juga, permintaan dana terkait untuk pemeliharaan dan perbaikan instalasi, suku cadang, dokumentasi dan pelatihan personel yang akan mengoperasikan sistem THAAD. Jumlah transaksi potensial tersebut mencapai $ 15 miliar.

Pernyataan tersebut juga mencatat bahwa menyelesaikan kesepakatan dengan Arab Saudi tidak hanya akan memperbaiki keamanan kerajaan, namun juga akan mempromosikan kepentingan AS dalam kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.

Penjualan senjata tersebut diduga dan (alat pendukung) tidak akan mengubah dasar keseimbangan militer di wilayah tersebut.

Pengingat bahwa Washington setuju untuk menjual sistem ini pada awal Mei 2017, namun Kementerian Luar Negeri AS menyetujui kesepakatan itu setelah menyadari niat Saudi untuk membeli sistem pertahanan udara Rusia dan sistem pertahanan rudal S-400 “Triumph”.

Dikutip dari laman berita Kommersant, Jum’at (6/10/2017), Rusia dan arab saudi mencapai kesepakatan senilai USD3 miliar, untuk penjualan sistem pertahanan rudal termuktakhir  S-400 Rusia. Kesepakatan lebih lanjut kedua negara itu akan ditandatangani pada pertemuan WTO pada akhir Oktober nanti.

Kebijakan luar negeri Rusia dan Saudi sejatinya juga tak sejalan. Misalnya dalam krisis Suriah, Moskow mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad dengan dukungan militer yang kuat. Sedangkan dari pihak arab saudi sendiri menentang rezim berkuasa di Suriah atau pro-oposisi.

Namun, sejak Moskow dan Damaskus meraih kemajuan pesat dalam perang sipil, Riyadh mulai menyadari perubahan situasi.

”Orang-orang Saudi telah kehilangan minat dan menyadari bahwa Rusia sekarang pengendali krisis,” kata Yuri Barmin, seorang pakar Dewan Urusan Internasional Rusia.

”Mereka melihat bagaimana keseimbangan kekuatan berubah di wilayah ini; bagaimana AS menarik diri dan bagaimana Rusia sekarang meningkatkan pengaruhnya di Timur Tengah,” lanjut dia.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here