Kontak Senjata 15 Menit, Pembajak Dilumpuhkan

0
749

Teror kelompok bersenjata kembali berulah dengan membajak kapal kargo di perairan Indonesia. Kapal berbendera Indonesia dengan nama KM Bunga Teratai dibajak di sekitar Laut Sulawesi, Senin (19/6).

Kondisi di lokasi pun menjadi genting karena anak buah kapal (ABK) KM Bunga Teratai disandera oleh pembajak, dan menodongkan moncong senjata ke arah ABK. Aksi kelompok bersenjata itu pun terpantau Maritime Command Center (MCC) Tawau yang berada di Malaysia, setelah menerima pemberitahuan dari nakhoda KM Bunga Teratai, Agus Prabowo.

Mendapatkan pemberitahuan itu, MCC Tawau menginformasikan kepada MCC Tarakan (Indonesia) dan MCC Bongao (Filipina) untuk diteruskan ke Indomalphi Quick Reaction Team guna mengambil tindakan cepat merespons situasi darurat.

Sementara itu, MCC Tarakan meneruskan informasi ke pesawat patroli maritim melalui pesawat Cassa P-851 milik TNI AL dan Boeing dari TNI AU untuk melakukan pegawasan dan pengintaian mencari informasi lebih lanjut tentang posisi KM Bunga Teratai. Selain itu, dua pesawat Sukhoi juga diterbangkan untuk menunda laju KM Bunga Teratai.

BACA JUGA :  Kepala Pentagon sekarang Korea Utara ancaman terbesar bagi keamanan AS, bukan Rusia

Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmatim sebagai visit, board, search dan seizure (VBSS) pengawal Rigid Hulled Inflatable Boat (RHIB) KRI Frans Kaisiepo (FKO)-388 dan KRI Sidat-851, dengan cepat mendekati kapal target sebagai pengalihan maupun penyergapan terhadap pembajak di KM Bunga Teratai.

Selain itu, kapal perang KD Todak yang dikomandani LCDR Fadzli dari Royal Malaysian Navy dan kapal perang BRP General Mariano Alvarez dari Philipina Navy dengan komandan LCDR Arthur M Angue ikut bergabung melakukan penyekatan di sekitar kapal sasaran.

Selanjutnya, helikopter jenis Bell 412 EP HU-419 mengerahkan tim Kopaska melalui Fastrope. Tim ini akan mendukung tim VBSS yang sebelumnya belum mampu melumpuhkan beberapa pembajak lainnya.

Setelah melalui aksi kontak senjata dengan pembajak di kapal sekira 15 menit, pasukan elit TNI AL yang dikomandani langsung Dansatkopaska Koarmatim Kolonel Laut (P) Henricus Prihantoko berhasil melepaskan sandera dengan meminimalkan korban. Sukses Pasukan Katak menguasai keadaan ditandai dengan naiknya bendera merah putih di kapal.

BACA JUGA :  China menghentikan kontak dengan Korut di sisi militer dan Dilema THAAD

Kejadian di atas merupakan rangkaian skenario dari peluncuran Trilateral Maritime Patrol Indonesia, Malaysia dan Philippina (TMP Indomalphi) yang saksikan menteri pertahanan dan panglima angkatan bersenjata tiga negara: Indonesia, Malaysia dan Filipina, serta delegasi dari Brunei Darussalam dan Singapura di perairan Tarakan.

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu mengungkapkan, kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama pertahanan yang sudah dilakukan tiga negara tersebut dalam upaya mengatasi berbagai ancaman radikalisme dan pemberontakan di perbatasan, khususnya wilayah perairan.

“Saya berharap launcing TMP ini dapat menjadi garis awal dan momentum bersejarah untuk ketiga negara dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas kerja sama pertahanan tiga negara di masa mendatang dalam rangka mewujudkan stabilitas keamanan di kawasan,” ujarnya kepada awak media di KRI dr Soeharso.

BACA JUGA :  Kapal Perusak Angkatan laut AS Tabrakan dengan Kapal Dagang

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini juga berharap kerja sama bisa meluas bukan hanya operasi patroli di laut, akan tetapi dapat dilaksanakan pula di darat maupun di udara dengan melibatkan negara Asia Tenggara lain.

Menjaga keamanan di wilayah perairan Asia Tenggara adalah tanggung jawab negara-negara yang tergabung di dalamnya. Karena itu, Ryamizard meminta semua negara di Asia Tenggara bekerja sama membuktikan mampu menjaga kedaulatan dan keamanan.

Menhan juga mengungkapkan keprihatinannya atas ancaman terorisme yang melanda Marawi, Filipina. Pemerintah Indonesia, kata dia, mendukung apa pun upaya yang dilakukan pemerintah Filipina dalam menumpas terosis di negaranya.

“Terorisme adalah musuh kita bersama, musuh dunia dan musuh kemanusiaan. Sehingga kita semua harus melawan dan menghancurkan aksi-aksi terorisme yang semakin dinamis, lingkupnya semakin luas, serta sudah menjadi aksi terkoneksi dan memerlukan penanganan yang trans nasional,” ujarnya.
Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here