Fregat masa depan Australia akan dilengkapi dengan sistem pertahanan rudal Aegis
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest
  • Gmail
  • Tumblr
  • Blogger

Fregat baru Angkatan Laut Australia akan dilengkapi tidak hanya dengan sistem pertahanan anti-kapal selam, namun dengan kompleks pertahanan rudal Aegis. Ini diumumkan oleh Perdana Menteri Malcolm Turnbull pada upacara pembukaan pameran Pacific International Maritime 2017 di Sydney, Selasa.

Dia menjelaskan bahwa keputusan untuk melengkapi kapal baru dengan sistem pertahanan rudal tersebut sebagian besar karena adanya ancaman dari DPRK. “Kita harus bisa menahan ancaman dan kekalahan ini (musuh),” kata perdana menteri.

Biaya program “Frigat masa depan Australia”, dengan mempertimbangkan perkuatan kompleks pertahanan rudal diperkirakan mencapai 35 miliar dolar Australia (sekitar $ 28 miliar). Pembangunan kapal fregat harus dimulai pada 2020 di galangan kapal Negara Bagian Australia Selatan, total 9 kapal direncanakan akan dibangun.

Rencana Besar Pembuatan Kapal Australia

Australia mengungkap rincian strategi besar pembuatan kapal, investasi itu menjadi yang terbesar di angkatan laut mereka pada masa damai untuk membuat puluhan kapal selam baru dan fregat guna menopang kemampuan pertahanannya.

Perdana Menteri Malcolm Turnbull mengatakan paket bernilai 89 miliar dolar Australia (sekitar Rp879,7 triliun)  yang pertama kali ditandai pada 2015 untuk menggantikan armada usang – akan meningkatkan industri lokal, dengan sekitar 5.000 lapangan pekerjaan tercipta di galangan kapal dan dua kali lipatnya di rantai pasok.

“Kami akan mengubah industri pembuatan kapal angkatan laut dan kelestarian industri di Australia, dengan para pekerja Australia, di galangan kapal Australia, menggunakan sumber daya Australia,” katanya saat secara resmi mengumumkan rencana itu.

“Ini adalah rencana untuk pekerjaan, rencana untuk keamanan, rencana untuk peluang investasi di industri pertahanan kami tidak hanya untuk hari ini dan besok, tetapi juga generasi mendatang,” katanya.

Program itu akan menghasilkan sembilan kapal fregat dan 12 kapal patroli lepas pantai, bersamaan dengan 19 kapal patroli Pasifik untuk negara-negara tetangga. Rencana tersebut juga mencakup 12 kapal selam baru dengan biaya 50 miliar dolar Australia (sekitar Rp493,7 triliun), dengan kontraktor angkatan laut Prancis DCNS tahun lalu dipilih untuk merancang dan membuatnya di Adeleide, mengalahkan pesaing dari Jepang dan Jerman.

Meski tidak ada ancaman khusus yang disebutkan, Menteri Pertahanan Marise Payne mengatakan bahwa program itu dirancang untuk memastikan “kita memiliki Pasukan Pertahanan Australia yang paling mampu, tangkas dan kuat.”

“Fregat-fregat, kapal-kapal patroli lepas pantai, dan kapal-kapal selam masa depan ini adalah platform yang akan memberikan kemampuan yang kita perlukan untuk memastikan kita melindungi Australia dan kepentingan kita,” katanya sebagaimana dikutip kantor berita AFP.

Di bawah rencana itu, fregat-fregat ANZAC dan Adelaide Australia akan diganti dengan kapal-kapal baru yang lebih baik dalam “mendeteksi, melacak, jika diperlukan merusak kapal-kapal selam musuh.”

Kapal patroli lepas pantai Armidale, yang dirancang untuk perlindungan perbatasan, juga akan diperbarui bersama dengan armada kapal selam bertenaga diesel dan listrik Collins Class.

Turnbull mengatakan lebih dari 1,3 miliar dolar Australia akan disuntikkan untuk memodernisasi fasilitas di Australia Selatan dan Australia Barat supaya pekerjaan itu bisa berjalan. Perguruan tinggi pembuatan kapal juga akan dibangun untuk melatih para pekerja.

Konstruksi kapal-kapal patroli dijadwalkan mulai 2018 dan fregat-fregatnya akan mulai dibuat dua tahun kemudian sementara pembangunan kapal-kapal selam akan dijalankan sekitar 2022.

Sumber
tass.ru
antaranews
defence connect

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here