Perawatan Altutista TNI AU Andalkan Teknisi Koharmatau

0
803


Perawatan Alutsista TNI AU Andalkan Teknisi Koharmatau

20 Oktober, 2009 – 03:04

BANDUNG RAYA

BANDUNG, (PRLM).- Perbaikan dan pemeliharaan berbagai jenis pesawat serta sejumlah alutista ( Alat Sistem Utama Pertahanan) TNI AU hampir sepenuhnya mengandalkan jasa para teknisi yang berada di Koharmatau (Komando Pemeliharaan Mataeriil TNI AU). Penggunaan kemampuan para prajurit di TNI AU itu selain akan menghemat anggaran negara juga meningkatkan kemampuan SDM Indonesia di bidang perbaikan pesawat dan alutista. Hal itu diungkapkan Komandan Koharmatau Marsekal Muda TNI Sunaryo kepada “PRLM” saat ditemui di kantornya, Bandung, Senin (19/10).

Menurut Sunaryo, selama ini pemeliharaan pesawat dan material TNI AU se-Indonesia tidak dilakukan dengan cara outsourcing karena hal itu tidak efektif dan efisien, khususnya ditinjau dari segi pendanaan. “Jika pemeliharaan pesawat dilimpahkan kepada pihak luar, maka biaya yang harus dikeluarkan akan sangat besar,” ujarnya.

BACA JUGA :  Ahli Barat, mempresentasikan skenario perang non-nuklir antara NATO dan Rusia

Dicontohkannya, berdasarkan aturan baku di dunia penerbangan, untuk satu jam terbang pesawat jenis Boeing 400, maka biaya perawatan yang harus dikeluarkan adalah 3.500 dolar AS. Sementara dalam satu bulan, kata Sunaryo, minimal 200 jam harus dialokasikan untuk kegiatan perawatan, sehingga dapat dibayangkan, jumlah uang yang harus dikeluarkan jika pemeliharaan diserahkan kepada pihak luar. “Jumlahnya menjadi sangat besar,” ujarnya.

Oleh karena itu, sesuai dengan anggaran yang ada tanpa mengabaikan aturan aviasi, maka keberadaan Koharmatau menjadi sangat vital dalam menjamin keberlangsungan operasional pesawat TNI AU se-Indonesia, baik itu untuk jenis pesawat lawatan, perang, maupun radar. “Para teknisi di sini, sama halnya dengan prajurit TNI lainnya, sudah mendapatkan gaji langsung dari pusat. Jadi, tidak perlu memikirkan soal gaji SDM. Tetapi, jika diserahkan pada pihak luar, ceritanya akan berbeda,” ujarnya menjelaskan.

BACA JUGA :  Panglima TNI Tinjau Pembangunan Pangkalan Militer

Akan tetapi, diakui Sunaryo, untuk sejumlah jenis pesawat tertentu, seperti Sukhoi, jika ada kerusakan, maka perbaikan harus dilakukan di Rusia. Umumnya, lanjut Sunaryo, diluar Sukhoi dan Fokker, para teknisi Koharmatau sudah dapat menanganinya dengan baik.

Lebih lanjut dijelaskannya, ditinjau dari efisiensi biaya, maka pemeliharaan pesawat jenis tertentu seperti Sukhoi, masih kan terus dilakukan oleh teknisi asal Rusia. Jika harus mendirikan depo khusus perbaikan Sukhoi, maka akan mengeluarkan biaya yang sangat besar. Padahal anggaran untuk pertahanan sangat minim. Tambahan pula, jumlah pesawat Sukhoi, dibandingkan dengan Hercules dan Cesna, jauh lebih sedikit. “Jadi., tidak perlu mendirikan depo khusus. Perbaikan kita serahkan kepada pihak luar,” kata Sunaryo.

BACA JUGA :  RI Jajaki Kerja Sama Industri Senjata dan Alat Tempur dengan Ceko

Apalagi, lanjut Sunaryo, keterbatasan anggaran masih menjadi kendala bagi TNI di masa depan. Namun demikian, keterbatasan dana ini tidak perlu dikhawatirkan karena diantisipasi dengan memaksimallkan SDM yang ada di Koharmatau. Untuk terus meningkatkan pengetahuan para teknisi Koharmatau, seiring dengan perkembangan teknologi, mereka selalu diberikan pendidikan dan training, baik lokal maupun internasional, secara reguler
Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here