Pasukan pertahanan dari Australia dan Indonesia mengakhiri patroli maritim terkoordinasi AUSINDO CORPAT 2017 pada hari Senin di Darwin, Australia.

Operasi gabungan tersebut, yang bertujuan menghentikan penangkapan ikan secara ilegal dan memperbaiki keamanan regional, dimulai di Benoa, Bali pada tanggal 27 Mei dan mencakup perairan antara Australia dan Indonesia selama periode 10 hari.

Operasi gabungan tersebut menargetkan eksploitasi sumber daya alam yang tidak sah dengan fokus pada penangkapan ikan ilegal di sepanjang batas maritim bersama.

Commander Maritime, Laksamana Muda Peter Laver mengatakan bahwa operasi tersebut telah memberikan kontribusi signifikan terhadap keamanan regional dan meningkatkan kemampuan masing-masing negara untuk memerangi aktivitas ilegal di wilayah maritim bersama.

“Sebagai tetangga di wilayah hubungan  pertahanan yang dinamis Australia dan Indonesia sangat penting. Kami memiliki kepentingan bersama dan patuh dalam keamanan dan stabilitas perairan antara negara kita dan pergerakan perdagangan dan investasi bebas melalui ranah ini, ” kata Laksamana Laver.

Latihan dilakukan oleh pasukan pertahanan dua negara selama lima hari menjelang AUSINDO CORPAT 2017.

Kapal patroli kelas Armidale, Kapal HMA Bathurst dan Glenelg, dan pesawat Orion AP-3C mengambil bagian dari ADF. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia menyumbang dua kapal angkatan laut, KRI Hiu dan Pandrong, dan sebuah pesawat patroli maritim.

(navaltoday)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here