Pesawat TNI AU 3 Hari Operasi Pengintaian di Perbatasan Sulut

Warga Sulut boleh bernapas lega. TNI/Polri makin memperketat perbatasan menghadang Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) dari Marawi, Filipina Selatan. Tak hanya wilayah darat dan perairan Sulut diperkuat Polda, TNI AD hingga Angkatan Laut. Tak ketinggalan TNI Angkatan Udara (AU). Hari ini, pesawat milik TNI AU tipe Boeing 737 Surveillance, dijadwalkan menggelar operasi di perbatasan udara Sulut-Filipina.

Danlanudsri Manado Kolonel Pnb Arifaini Dwiyanto mengatakan, kedatangan pesawat dari Skadron Udara Hassanudin Makassar ini, adalah perintah langsung dari Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Republik Indonesia. Guna mendeteksi aksi terorisme (ISIS, red) yang mengancam dari konflik Marawi, pulau selatan Filipina.

“Besok (hari ini, red) ada satu pesawat jenis Boeing 737 Sureillance yang mempunyai tugas pokok sebagai pengintaian udara strategis, akan datang di pangkalan udara Manado,” beber Kolonel Arifaini, kepada Manado Post, kemarin.

Misinya, kata danlanudsri termuda, untuk mengamankan wilayah perbatasan Indonesia-Filipina, dari situasi yang berkembang di daerah yang terletak di Pulau Mindanao Selatan tersebut. “Akan melaksanakan operasi selama tiga hari. Tapi bisa ditambah waktu operasinya, tergantung perintah,” sambungnya lagi.

Menurut jadwal, lanjut Arifaini, operasi akan digelar mulai pukul 10.00 Wita. “Akan operasi pengintaian. Jam tiga sore kembali lagi ke Lanudsri. Semua kru dan peralatan lengkap bakal dikerahkan,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat  Polda Sulut Kombes Pol Ibrahim Tompo kembali menekankan, operasi ‘Nusa Aman III’ Polda Sulut, jelas terkait dengan kerawanan situasi dan isu tentang gerakan radikalisme, baik dalam negeri maupun luar negri. “Di mana kerawanan yang mungkin timbul karena dampak insiden Marawi,” ungkap Tompo, kemarin.

Adapun pola yang dilaksanakan, urainya, berupa peningkatan pengamanan markas komando, patroli oleh fungsi sabhara, termasuk patroli wilayah perairan dan laut oleh personel gabungan polair, brimob, hingga personel polres. “Ada juga sambang desa berupa pembinaan masyarakat dan nelayan oleh fungsi binmas,” tambah juru bicara Polda Sulut itu.

Untuk menutup gerak gerik teroris, polisi katanya, melakukan deteksi dini dan penggalangan info dan pemantauan giat organisasi masyarakat, oleh intelijen. “Kami berkoordinasi juga dengan densus untuk memantau gerakan yang rawan dengan radikalisme,” tuturnya.

Terkait giat patroli perairan, lanjut Tompo, akan fokus pada wilayah polres perbatasan, dalam hal ini di Talaud dan  Sangihe. “Untuk memback up giat tersebut, telah dikirimkan ratusan pasukan untuk patroli dan pemantauan awal. Semuanya dilengkapi dengan kapal dan persenjataan lengkap,” beber Tompo. “Pola yang dilaksanakan dalam giat tersebut, berupa patroli dan pengecekan terhadap aktivitas masyarakat dan perahu nelayan yang melintas di perairan perbatasan,” pungkas mantan Wadirreskrimsus Polda Maluku Utara.
Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here