Melihat dari dekat pesawat TNI AU tipe 737 Surveiller

0
770

Operasi Kilat Badik 2017, Jadi Mata-Mata di Perbatasan RI-Filipina

SEKILAS tampak seperti pesawat biasa. Tapi, pesawat TNI AU Tipe Boeing 737 Surveillance dengan tail number AI-7303 yang bermarkas di Landasan Udara Sultan Hasanudin Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini punya misi penting. Dalam operasi bersandi “Kilat Badik 2017”, pesawat ini mengintai batas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bagian utara Sulut (Sulawesi Utara). Tujuannya untuk pengamanan, pengintaian dan pengamatan wilayah alur laut kepulauan Indonesia.

Komandan Landasan Udara Sam Ratulangi (Danlanudsri) Kolonel Pnb Arifaini Nur Dwiyanto MTr (Han) menjelaskan, operasi Kilat Badik 2017 dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi terakhir di daerah konflik Marawi (Filipina). ”Yang melakukan pengintaian ada Skadron 5 dan enam alutsista. Operasi ini untuk meng-update data pergerakan di daerah perbatasan yang mengarah ke Sulut. Untuk mengantisipasi pergerakan itu bisa meluas ke wilayah NKRI,” ungkapnya.

Data-data yang dikumpulkan pesawat pengintai milik TNI AU itu secara kontinu dilaporkan dan dikoordinasikan dengan pihak yang berkepentingan. Data intelijen itu nantinya dianalisa dan dijadikan referensi untuk operasi selanjutnya dari seluruh satuan pengamanan.

”Saat pesawat intai ini terbang, laporan terkini diinput. Mulai dari data wilayah operasi di atas permukaan laut maupun keadaan di sekitarnya. Nantinya, disajikan kepada satuan terkait seperti Lantamal, Kodam, maupun pimpinan atas di Mabes TNI sebagai referensi untuk melakukan operasi selanjutnya,” jelasnya.

BACA JUGA :  FPI akan menciptakan kendaraan lapis baja Rusia yang lebih kuat

Berdasarkan perintah pimpinan tinggi TNI AU, sejak pukul 6.30 pagi, pesawat mata-mata ini berangkat dari Lanud Sultan Hasanudin di bawah pimpinan Mayor Pnb Hendro Sukamdani. Didampingi belasan anggota kru, pesawat pun diterbangkan ke wilayah perbatasan Indonesia dan Filipina. Sasaran operasinya, pulau-pulau terluar di wilayah utara Sulut. Yaitu Pulau Marore, Miangas dan Marampit.

”Kami patroli di perairan maupun di pulau-pulau tersebut. Kami khawatir adanya pergerakan personel (dari Filipina, Red) baik dengan kapal cepat maupun kapal lambat ke wilayah kita,” ungkap Kapten Pilot Mayor Pnb Hendro Sukamdani.

Setelah sekira tiga jam berpatroli, tidak ada hal mencurigakan ditemui di area perbatasan. Dengan demikian, pesawat kemudian diterbangkan kembali ke Manado. Selain untuk mengisi bahan bakar (refuel), landing pertama pesawat Boeing 737-200 Skadron 5 itu melaporkan data awal yang didapat dari sorti pertamanya.

Misi sorti ke dua pun dilanjutkan sekira pukul 11.00 WIB. Kali ini, kru pengintai lebih fokus mengumpulkan data pelabuhan di sekitar tiga pulau terluar. ”Kami berpatroli kurang lebih dua setengah jam. Di sepanjang pulau, tidak ada kapal-kapal mencurigakan yang bersandar. Sehingga dinyatakan perairan kita aman. Tidak ada pergeseran atau invasi dari militan Filipina,” jelas Sukamdani.

BACA JUGA :  Pemerintah membahas pembelian Tank Medium dan Tank Boat buatan pindad

Berwarna putih abu-abu, dengan lambang bendera merah putih pada ekornya, pesawat milik Skadron 5 TNI AU itu tak bisa diakses sembarangan. Misi rahasia yang terselip di balik setiap operasi pesawat pengintai ini memang tak boleh jadi konsumsi publik. Bahkan, anggota TNI AU pun tak bisa masuk sembarangan.

Dilengkapi peralatan mission system canggih, situasi darat dari jarak belasan ribu kaki di atas permukaan pun akan jelas terlihat. Selain itu, teknologi automatic air navigation system membantu tugas para kru pengintai mengumpulkan data seluruh kapal di permukaan laut. Tak hanya bentuk fisiknya saja yang terlihat. Data-data kapal pun jelas terspesifikasi melalui monitor yang berkoneksi di dalam kabin pesawat.

”Semua kapal yang bertransponder (kapal-kapal besar, Red) pun terdeteksi oleh alat kami. Spesifikasinya jelas mulai dari kecepatan, arah, posisi, tujuan, dan data kapal terekam semuanya,” jelas Sukamdani sembari memperlihatkan hasil tangkapan kamera dari ketinggian 10 ribu kaki.

Sempat ada kecurigaan ketika kru tentara pengintai melihat sebuah kapal nelayan di sebelah timur Pulau Marore. Kapal tersebut dicurigai sebagai kapal Filipina. Beruntung, setelah diidentifikasi, ternyata kapal nelayan tersebut milik nelayan Indonesia.

Sementara itu, kamera pengintai pun memberikan gambaran situasi Pulau Miangas dari ketinggian 13.520 kaki (sekira 7 kilometer di atas permukaan laut). Tidak terlihat sesuatu yang mencurigakan. Bahkan, sekilas tampak suasana sepi di pulau itu. Kondisi pulau terluar dinyatakan aman. Tidak ada yang mencurigakan di pelabuhan maupun sepanjang pantai. ”Kondisi pulau terluar berada dalam kondisi aman terkendali. Tidak ada kegiatan mencurigakan dari Filipina yang mengarah ke Indonesia. Selain itu, keadaan infrastruktur pun keadaannya baik dan stabil. Masyarakat melakukan kegiatan rutinnya dengan aman. Tidak ada sedikit pun gejolak dan kegiatan ekonomi di pelabuhan, pesisir pantai maupun aktivitas nelayan,” jelas Capt Pilot Mayor Pnb Hendro Sukamdani.

BACA JUGA :  Kapal Selam A26 cocok untuk Indonesia

Sebagai organisasi perang, semua pergerakan pesawat pengintai ini mengikuti perintah dari pimpinan. Diakui Mayor yang juga adalah Komandan Flight Latihan di Lanud Sultan Hasanuddin Makasar itu, ia dan krunya menjalankan perintah atasan dengan menjunjung tinggi jiwa militansi seorang tentara. ”Kami mengumpulkan data sebanyak mungkin di daerah operasi. Kemudian dilaporkan ke instansi terkait untuk memperoleh keputusan untuk operasi ke depan. Sebagai tentara, harus punya jiwa militansi yang tinggi untuk melaksanakan perintah dari panglima atau atasan. Di samping itu, kita militan untuk menjaga NKRI. Termasuk dalam operasi ini,” tutupnya.
Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here